Mengunjungi Bukit Jabal Uhud

Mengunjungi Bukit Jabal Uhud

Salah satu tempat yang sangat bersejarah di madinah yang akan menjadi serangkaian ibadah umroh maupun haji yang akan di laksanakan di Jabal Uhud yang merupakan sebuah bukit yang di janjikan dari surga. Tidak seperti umum nya gunung di Madinah, Jabal Uhud seperti sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung yang lain. Karena itulah penduduk Madinah menyebu t ya dengan sebutan Jabal Uhud yang artinya ‘bukit menyendiri’. Jabal uhud terletak sekitar 5 kilometer dari kota madinah yang mana gunung ini memiliki 1.700 meter.

Mengunjungi Bukit Jabal Uhud
Mengunjungi Bukit Jabal Uhud

[ Ikuti Program Umorh Plus Cairo ]

“Jika kita ingin melihat bukit yang ada di surga, maka ziarahlah ke Bukit Uhud. Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga’,” demikian hadis yang diriwayatkan (H.R Bukhari)”.

Kemudian Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “ Jika kamu ingin melihat salah satu gunung di syurga lihatlah gunung uhud “. Nabi Muhammad SAW bersama Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar Al-Faruq RA, dan Sayyidina Usman bin Affan RA. Setelah keempat nya berada di puncak, terasa Gunung Uhud bergetar.

Nabi Muhammad SAW kemudian nya menghentak kan kaki nya dan bersabda : “Tenanglah kamu Uhud. Di atas mu sekarang adalah Nabi Muhammad SAW dan orang yang selalu membenarkan nya.” Tidak lama setelah itu Uhud berhenti bergetar. Demikianlah tanda kecintaan dan kegembiraan Uhud menyambut Nabi Muhammad SAW.

Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kelompok musyrikin Mekah sekitar 3.000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin yang gugur sampai 70 orang syuhada, di antaranya paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muththalib, yang digelari Asa­Dullah wa Asadur Rasul (Singa Allah dan Rasul-Nya), Mush’ab bin Umair, dan Abdullah bin Jahsyin.

Para syuhada itu kemudian di makamkan di tempat mereka gugur, di sekitar Gunung Uhud. Nabi Muhammad SAW sendiri dalam peperangan tersebut mendapat luka-luka. Dan sahabat-sahabat nya yang menjadi perisai untuk Rasul gugur karena badan nya di penuhi oleh anak panah.

Pemakaman Para Syuhada

Setelah perang usai dan kaum musyrikin mengundur kan diri kembali ke Mekah, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar mereka yang gugur di makam kan di tempat mereka roboh, sehingga ada satu liang kubur terdiri dari beberapa syuhada.

Mengunjungi Bukit Jabal Uhud
Mengunjungi Bukit Jabal Uhud

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Mereka yang di makamkan di Uhud tidak memperoleh tempat lain kecuali ruh nya berada di dalam burung hijau yang melintasi sungai surgawi. Burung itu memakan makanan dari taman surga, dan tidak pernah kehabisan makanan. Pada syuhada itu berkata siapa yang akan menceritakan kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga.”

Maka Allah berkata, “Aku yang akan memberi kabar kepada mereka.” Maka dari situ kemudian turun ayat (Quran.surah 3 :169) yang berbunyi, “Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu meninggal.”

46 Tahun kemudian, yaitu pada masa Khalifah Marwan bin Hakam, terjadi banjir besar sehingga makam Hamzah dan Abdullah bin Jahsyin rusak berat. Ternyata, meski sudah lebih dari 40 tahun di dalam kubur, jasad kedua sahabat itu masih segar, seperti baru saja meninggal. Maka jasadnya dikubur di tempat lain tapi masih di kawasan Gunung Uhud.

Pada tahun 1383 H, dibangun tembok tinggi yang mengelilingi makam Hamzah dengan celah-celah jeruji, agar peziarah dapat menyaksikan makam tersebut. Di dalam areal pemakaman tidak ada tanda-tanda khusus seperti batu nisan, yang menandakan ada makam di sana.

Kecintaan Rasulullah kepada para syuhada Uhud, terutama Hamzah mendorong beliau melakukan ziarah ke Jabal Uhud hampir setiap tahun. Jejak ini diikuti pula oleh beberapa khalifah setelah Rasul wafat.

Dengan demikian Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk diziarahi oleh para pengunjung, khususnya jemaah haji dan umroh.

Nabi Muhammad SAW menempatkan pasukan Islam di kaki bukit Uhud di bagian barat. Tentara Islam berada dalam formasi yang kompak dengan panjang front kurang lebih 1.000 yard. Sayap kanan berada di kaki bukit Uhud sedangkan sayap kiri berada di kaki bukit Ainain (tinggi 40 kaki, panjang 500 kaki). Sayap kanan Muslim aman karena terlindungi oleh bukit Uhud, sedangkan sayap kiri berada dalam bahaya karena musuh bisa memutari bukit Ainain dan menyerang dari belakang, untuk mengatasi hal ini rasulullah menempatkan 50 pemanah di Ainain dibawah pimpinan Abdullah bin Zubair dengan perintah yang sangat tegas dan jelas yaitu “Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami.”

Di belakang pasukan Islam terdapat 14 wanita yang bertugas memberi air bagi yang haus, membawa yang terluka keluar dari pertempuran, dan mengobati luka tersebut. Di antara wanita ini adalah Fatimah, putri rasulullah yang juga istri Ali, sedangkan rasulullah sendiri berada di sayap kiri.